Bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta, Keraton Yogyakarta sudah pasti bukan sekedar pusat pemerintahan, yang menjadi tempat tinggal sekaligus kantor Sri Sultan. Lebih dari itu, Keraton Yogyakarta merupakan saksi sejarah dari Kota Yogyakarta itu sendiri, yang meski penuh hal mistis dan terkesan sebagai mitos, tapi toh hingga kini masyarakat Jogja tetap meyakini dan menghormatinya. Yuk kenali lebih jauh lagi tentang Keraton Yogyakarta.

Sejarah Keraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta mulai dibangun pada abad ke 15 ketika Ki Ageng Pemanahan diberi wilayah kekuasaan oleh Sultan Pajang sebagai hadiah untuk jasanya mengalahkan Aryo Panangsang. Pada tahun 1577, Ki Ageng Pamanahan membangun istana Kotagede. Ki Ageng Pamanahan kemudian wafat pada tahun 1584 dan dimakamkan di dekat Masjid Kotagede.

Keraton Yogyakarta

 

Usai Ki Ageng Pamanahan Mangkat, kepemimpinan dipegang oleh Sutawijaya. Sutawijaya merupakan putra dari Ki Ageng Pamanahan. Hanya saja, Sutawijaya ini enggan tunduk pada Sultan Pajang.

Hal tersebut membuat Kerajaan Pajang memutuskan menyerang Mataram di tahun 1587. Namun adanya letusan Gunung Merapi membuat pasukan Kerajaan Pajang mengalami kekalahan, dan pasukan Kerajaan Mataram dapat selamat. Sutawijaya pun diangkat sebagai raja di Kerajaan Mataram. Kepemimpinan tersebut berlangsung turun menurun hingga datangnya VOC pada masa pemerintahan Amangkurat I yang memecah Mataram menjadi dua wilayah, Surakarta dan Yogyakarta.

Berdasarkan Perjanjian Giyanti, Pangeran Mangkubumi diangkat menjadi Sultan dari Kasultanan Yogyakarta dan disebut sebagai Sri Sultan Hamengkubuwono I. Hingga hari ini, bentuk pemerintahan kasultanan tersebut tetap dipertahankan.

Eksotisme Keraton Yogyakarta

Kompleks Keraton Yogyakarta terbagi menjadi dua bagian. Ada bagian yang boleh dikunjungi dan memang dibuka sebagai tempat wisata, dan ada bagian lain yang memang dikhususkan bagi keluarga kerajaan. Adapun bagian yang tidak boleh dikunjungi, antara lain Gedhong Jene, Gedhong Purworetno, Kaputren, Bangsal Trajumas, dan Bangsal Kencana.

Keraton Yogyakarta

 

Pada kompleks depan, terdapat Gladhag Pangurakan atau gerbang utama yang ada di utara. Ada alun-alur lor atau alun-alun utara di mana terdapat sepasang pohon beringin yang dikhususkan. Ada juga Masjid Gedhe Kasultanan (Masjid Raya Kesultanan) yang terkenal dengan nama Masjid Gedhe Kauman.

Pada kompleks inti, terdapat Kompleks Pagelaran yang dahulunya sering digunakan sebagai tempat bagi para punggawa kesultanan menemui Sri Sultan saat upacara resmi. Lalu ada Siti Hinggil Ler yang digunakan sebagai tempat upacara resmi. Ada Kamandhungan Lor yang hanya dibuka pada hari-hari tertentu, seperti saat ada upacara resmi kerajaan.

Ada Sri Manganti yang saat ini ditempatkan beberapa pusaka keraton, yakni gamelan, sekaligus difungsikan ketika ada event pariwisata keraton. Ada kedhaton yang merupakan bagian paling inti dari Keraton Yogyakarta.  Selain itu, ada juga kamagangan, kamandhungan kidul, dan siti hinggil kidul.

Pada kompleks belakang, terdapat alun-alun kidul yang dikelilingi oleh tembok persegi dengan lima gapura. Ada juga plengkung nirbaya yang menjadi ujung selatan poros utama keraton. Selain itu, keraton juga memiliki bagian-bagian lain, seperti Taman Sari, Roto Wijayan, dan sebagainya.

Bukan hanya bangunannya yang eksotis dan memiliki aura magis, Keraton Yogyakarta juga menyimpan berbagai koleksi yang tidak kalah eksotis, seperti kereta kencana, keris, dan berbagai koleksi khas Kerajaan Jawa masa dahulu.

Berbagai kegiatan yang diadakan di Keraton

Di Keraton Yogyakarta, terdapat beberapa kegiatan yang dapat Anda nikmati, antara lain pertunjukan gamelan (Senin-Selasa), pertunjukan wayang kulit (Sabtu), pertunjukan seni tari (Minggu dan Kamis), pembacaan puisi (Jumat), dan pertunjukkan wayang golek (Rabu).

Lokasi, Rute, Harga Tiket, dan Fasilitas yang Tersedia

Karena merupakan pusat pemerintahan Provinsi Yogyakarta, maka Keraton Yogyakarta terletak di pusat kota Jogja. Untuk mencapai keraton, Anda dapat memarkir kendaraan di alun-alun selatan, maupun alun-alun utara. Keraton Yogyakarta buka setiap hari, mulai pukul 09:00 – 14:00 WIB, namun pada hari Jumat hanya sampai pukul 11:00 WIB.

Tiket masuk ke Keraton Yogyakarta sangat terjangkau, yakni Rp7.000 untuk turis lokal, dan Rp12.500 untuk turis asing. Bila Anda menginginkan dengan pemandu wisata, maka ada biaya tambahan yang dibebankan.

Untuk Anda yang tidak memiliki kendaraan pribadi untuk berlibur ke Keraton Yogyakarta, kami menyewakan jasa penyewaan motor bagi Anda. Selain harganya terjangkau, motor yang kami sewakan juga terjamin kualitasnya. Tunggu apa lagi? Kunjungi kami di Sewa Motor Jogja. Sekian ulasan mengenai salah satu tempat bersejarah di Jogja, Keraton Yogyakarta. Sampai jumpa!